Autisme di Mata Seorang Terapis

Memahami bagaimana dunia seorang anak yang memiliki gangguan merupakan hal yang tidak mudah. Vivi Ramayanti, seorang ibu yang berprofesi sebagai therapist di Klinik Terapi Wicara Jambangan Kasih Jakarta Pusat, memberikan banyak hal baru yang membuat kita akan lebih menghargai kehidupan. Berprofesi sebagai therapist sejak tahun 1998, ibu Vivi yang juga lulusan dari Akademi Terapi Wicara Bina Wicara, menceritakan pengalamannya selama ini menjadi seorang therapist. Awal mulanya beliau menjadi therapist merupakan hal yang tidak direncanakan, namun karena adanya kesempatan maka akhirnya beliau menjadi seorang therapist sampai sekarang.

Di klinik tempatnya menjadi therapist beliau mengatakan bahwa sebenarnya anak-anak yang memiliki gangguan seperti down syndrome ataupun autisme adalah anak-anak yang lucu dan menghibur. Dengan kebiasaan dan tingkah laku mereka justru bisa menghibur orang-orang disekitarnya. Di klinik tersebut tidak hanya menerima anak-anak yang memiliki gangguan seperti down syndrome atau autisme, tetapi juga anak-anak tuna rungu atau gangguan lain seperti keterlambatan belajar. Untuk anak-anak yang mengalami down syndrome, therapist biasanya berasal dari Akademi Terapi Wicara sedangkan untuk therapist tuna rungu dan keterlambatan belajar berasal dari UNJ jurusan Pendidikan Luar Biasa. Anak-anak yang diterapi disana mulai dari usia 2 sampai dengan 15 tahun. Dan dari setiap kepribadian anak-anak tersebut mempunyai keistimewaan yang berbeda beda.

Terkadang menjadi seorang therapist juga membutuhkan ekstra kesabaran untuk mengahadapi anak-anak tersebut. Kebiasaan anak-anak yang sering kali diluar dugaan kita adalah kendala yang terbiasa dihadapi oleh para therapist. Kebiasaan seperti marah yang tiba tiba, menyerang atau bahkan sering anak-anak tersebut meludahi therapist mereka. Mengingat yang diajarkan bukanlah anak biasa, maka emosi yang stabil haruslah benar-benar terjaga. Therapist harus bersikap tegas untuk memberi tahu mereka tentang aturan-aturan yang ada. Selain menghadapi reaksi anak-anak tersebut,hal lain yang biasanya butuh proses adalah untuk bisa masuk kedunia mereka dan berkomunikasi dengan mereka secara pribadi. Butuh pendekatan terlebih dahulu, terkadang ada yang baru observasi bisa langsung cocok tapi juga ada yang tidak cocok sehingga harus dengan therapist yang berbeda.

Waktu yang sedikit, satu jam satu kali pertemuan akan lebih efektif untuk mereka memahami ajaran-ajaran yang diberikan apalagi dengan sistim dalam satu kelas maksimal enam orang anak dengan dua orang therapist dan minimal adalah satu orang anak dan satu orang therapist. Pada awalnya kegiatan therapist ini bertujuan untuk membuat anak-anak tersebut bisa berkomunikasi dan bisa berbicara. Namun tidak semua anak pada akhirnya bisa berbicara, jika begitu maka ada alternatif lain agar mereka tetap dapat berkomunikasi yaitu dengan pengajaran komunikasi non-verbal, dengan menulis atau menggambar. jika mereka mampu berbicara selanjutnya adalah mengajarkan pelajaran seperti yang diajarkan di sekolah.
Beruntung saat mewawacarai bu Vivi, beliau sedang melakukan terapi dengan salah satu anak didiknya, seorang anak laki-laki bernama Alvin yang sudah diterapi sejak usia 3 tahun hingga sekarang 14 tahun. Alvin mengalami gangguan pemahaman bahasa karena kerusakan syaraf otak yaitu Afasia. Kami bisa melihat langsung seperti apa anak-anak yang ditangani bu Vivi. Tadinya Alvin sempat sekolah disekolah dasar biasa, namun Alvin tidak bisa mengikuti pelajaran disana, dan akhirnya ia kembali ke sekolah khusus dan kembali menjalani terapi.

Menurut beliau mendidik anak-anak ini harus hati hati karena anak-anak ini unik. “kebanyakan yg negatif lebih cepat diambil dibanding yang positifnya, karena mereka tidak bisa memilah maka yang menurut mereka menyenangkan yang mereka ambil” jelas bu Vivi.Untuk orangtua yang merasa malu karena memiliki anak yang tidak normal, harusnya punya motivasi untuk mencari tahu bahwa ada tempat yang bisa memberi harapan yang lebih baik untuk anak mereka. Dan terakhir, pelajaran hidup yang bisa diambil dari profesi ini khususnya sebagai orangtua adalah kesabaran, karena kelebihan dan kekurangan harus diterima, semua ada baiknya. Dan setiap manusia pasti memiliki kelebihannya masing-masing.

Karya lain dari Nanda bisa dilihat di Nanda Indri

6 Balasan ke Autisme di Mata Seorang Terapis

  1. Rina berkata:

    Every child is special..
    They are also Image of God..
    So, love them as much as other children..

    Indonesia need new generation that care to people..
    Indeed,, I hope this spirit will be continue..
    Keep going nanda..

  2. inna berkata:

    anak autis tuh pada dsrnya sm ja ma ank pd ummnya hny sj dy mngalmi gangguan prkmbngan yg dsbbkan gangguan neurologis yg mmpngaruhi fngsi otak shngga interaksi dan komunikasi dgn org lain mnjd tdk efektif…..
    ttp ga blh underestimate sm anak autis
    mrk jg puna hak yg sama ma ank2 lainnya
    jd qt hrs ttp mmprlkukan mrk sama namun lbh khusus ja dr anak2 normal…
    pesannya: jgn suka ngatain org dgn sbtn “autis”

  3. avrii berkata:

    indri ak jg lg ada penelitian di sekolah autis, dsna jg sm ada terapinya. di daerah tb.simatupang nama nya “SARANA”
    setuju anak autis emang lucu mereka pny kelebihan dibanding anak-anak pd umumnya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s